JAKARTA SELATAN– Gedung Metropolitan Tower menggelar Salat Jum’at dengan menghadirkan khatib Deni Darmawan, M.Pd.I dengan judul “Penguatan Pendidikan Karakter Religius di Keluarga” pada Jum’at (21/11/2025) di Jl. R.A. Kartini Kav. 14 TB Simatupang, Jakarta Selatan.
Khutbah Jumat di Gedung Metropolitan Tower kali ini berlangsung penuh keprihatinan dan refleksi mendalam. Dalam khutbahnya, Deni Darmawan, M.Pd.I menyoroti fenomena memprihatinkan yang baru-baru ini terjadi, yakni pemboman di salah satu sekolah negeri di Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang dilakukan oleh seorang siswa di bawah umur dan dilakukan di area masjid sekolah.
Peristiwa ini menjadi landasan bagi sang khatib untuk mengajak para jamaah melakukan evaluasi dan introspeksi diri, terutama bagi keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Menurutnya, semua kejadian buruk tersebut berawal dari keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak.
Dalam penyampaiannya, Deni menegaskan bahwa persoalan yang terjadi pada generasi saat ini tidak dapat dilepaskan dari sejumlah faktor. Bullying (perundungan), broken home, kurangnya perhatian dari keluarga, pencarian identitas diri, marginalisasi sosial, rendahnya literasi digital, hingga kurangnya pemahaman agama menjadi rangkaian penyebab yang saling berkaitan.
“Keluarga memiliki peran paling penting dan efektif dalam menanamkan serta memperkuat pendidikan karakter religius agar anak memiliki karakter yang baik,” tegasnya Deni yang juga seorang Da’I MUI DKI Jakarta Selatan.
Deni juga mengutip pandangan para ulama yang menyebutkan bahwa keluarga adalah al-madrasah al-ula atau sekolah pertama bagi seorang anak dalam pembentukan karakter religius. Keluarga bukan hanya tempat tinggal, melainkan fondasi utama tumbuhnya kepribadian dan moralitas seseorang.
Ia merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6 yang memerintahkan umat Islam untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Ayat ini memberi pesan kuat bahwa tanggung jawab pendidikan karakter tidak sepenuhnya dapat diserahkan kepada sekolah atau lembaga lainnya, tetapi berada pertama dan terutama di tangan orang tua.
“Orang tua adalah pemimpin di lingkungan keluarganya, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban kelak atas kepemimpinannya. Pemimpin sejati adalah mereka yang membawa anggota keluarganya kepada kebaikan, mengarahkan akhlak, membimbing keilmuan, dan menjaga fitrah iman anak-anaknya,” terang Deni yang sudah menulis 10 buku literasi dan religi.
Memasuki bagian inti khutbah, Deni Darmawan uraikan empat pilar penguatan pendidikan karakter religius di dalam keluarga. Pilar pertama adalah nilai keimanan dan tauhid.
“Orang tua harus menanamkan nilai ketakwaan, kejujuran, rasa syukur, kesabaran, dan tawakal kepada Allah SWT. Keimanan yang kuat akan menjadi tembok penjaga anak dari berbagai pengaruh negatif di era modern,” jelas Deni yang juga dosen dan guru di Jakarta Intercultural School.
Pilar kedua adalah nilai keilmuan. Ia memaparkan bahwa anak harus dibimbing untuk mencintai ilmu, bersikap optimis, memiliki kegigihan, kecerdasan, serta memahami keutamaan orang yang berilmu.
“Pendidikan berbasis ilmu, akan membuat anak tumbuh sebagai pribadi yang terarah dan beradab dalam bertindak,” lanjutnya.
Pilar ketiga adalah penguatan nilai amal. Anak perlu diarahkan untuk melakukan perbuatan baik, membiasakan salat, bersedekah, bekerja keras, bekerja ikhlas, dan bekerja secara cerdas.
“Ilmu tanpa amal menjadikan karakter rapuh, sementara amal tanpa dasar ilmu justru dapat menimbulkan tindakan yang keliru,” ujarnya.
Adapun pilar keempat ialah akhlak. Menurutnya, pendidikan karakter religius akan mencapai puncaknya jika orang tua menanamkan nilai toleransi, sopan santun, adab, dan etika baik dalam kehidupan nyata maupun dunia digital. Begitu banyak kisah Nabi Muhammad SAW tentang keteladanan akhlak.
“Akhlak mulia adalah mahkota dari pendidikan religius dan menjadi identitas mulia seorang muslim. Seorang mukmin dikatakan sempurnya keimanan adalah yang paling baik diantara mereka akhlaknya,” katanya di depan jamaah.
Di akhir khutbahnya, Deni mengajak umat Islam untuk tidak meninggalkan generasi yang miskin iman, ilmu, amal, dan akhlak. Ia mengingatkan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 9 yang melarang umat Islam meninggalkan generasi lemah.
“Generasi lemah bukan hanya generasi yang tertinggal secara ekonomi, tetapi juga yang miskin nilai agama, tidak memiliki etika, tidak berilmu, dan mudah terjerumus dalam perbuatan destruktif, baik dalam dunia nyata atau dunia maya,” ungkap Deni yang juga sudah menulis puluhan artikel reportase dan opini di berbagai media massa.
Deni Darmawan kemudian menutup khutbah dengan seruan untuk menjadikan keluarga sebagai fondasi utama pembentukan generasi Rabbani sebagai mana dalam surat Ali-Imran ayat 78.
“Generasi yang beriman kuat kepada Allah, yang senantiasa mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. Dengan penguatan pendidikan karakter religius di rumah tangga, kita optimistis masyarakat dapat mencegah munculnya generasi destruktif serta mengarahkan anak-anak menuju akhlak mulia, kecerdasan, dan kematangan spiritual. Kita songsong generasi emas 2045,” jelasnya.
Khutbah Jumat pun ditutup dengan doa agar Allah SWT menjaga anak-anak generasi bangsa dari keburukan zaman dan menjadikan keluarga sebagai benteng kebaikan serta tempat tumbuhnya generasi berkarakter religius, berilmu, dan berakhlak mulia.




